Cinta Takkan Usang Oleh Gulirnya Waktu

Sore itu, Pak Pur baru saja pulang dari kebun yang berjarak sekitar 500 meter dari rumahnya.

“Assalamu’alaikum,” ucap Pak Pur sambil meletakkan perlengkapan berkebun di teras rumah. Ia lalu bersandar di atas kursi yang sudah nampak usang.

“Wa’alaikum salam. Loh, Bapak udah pulang ta?” saut Bu Sri.

“Bentar, Pak, tak buatin minum dulu,” lanjutnya.

Bu Sri pun masuk ke dapur. Bu Sri memang seorang isteri yang luar biasa bagi Pak Pur. Ia telah menemani Pak Pur hingga lima puluh tahun lamanya. Walau hidup di sebuah gubuk sederhana, ia sama sekali tidak mengeluh dan menuntut hak yang macam-macam kepada suaminya.

“Ini kopinya, Pak.” Bu Sri meletakkan kopi di atas meja di samping tempat duduk suaminya.

“Pak, udah cukup lama kita ndak dengar kabar dari si Bagus. Gimana ya kabar cucu kita? Apa dia udah mulai sekolah ya, sekarang? Ibu pengen sesekali melihat rumah anak kita di kota. Rumah yang besar dengan pekarangan yang begitu luas, seperti yang dia ceritain waktu itu.”

Pak Pur menyimak cerita isterinya.

“Iya, Bu. Bapak juga punya hasrat seperti itu. Tapi, karena jaraknya yang jauh dan butuh biaya yang tak sedikit juga untuk kesana. Jadi, kita tunggu saja disini. Semoga anak-anak dan cucu kita selalu dalam lindungan Gusti Allah.” Pak Pur berusaha menepis kecemasan isterinya.

Bu Sri dan Pak Pur memang memiliki dua orang anak. Anak sulungnya bernama Bagus Purwadi, dan yang bungsu bernama Musdalifah. Bagus telah merantau ke kota, lalu mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang cukup baik. Dan ia pun telah menikah dengan anak direktur tempat ia bekerja. Sementara adiknya, Musdalifah tengah menempu pendidikan sekolah menengah di sebuah pesantren yang didirikan oleh sahabat ayahnya.

Lima tahun setelah Bagus merantau ke kota dan memutuskan untuk tinggal disana, ia baru tiga kali lebaran mengunjungi orang tuanya. Dan dua tahun belakangan ia begitu sibuk dengan beberapa pekerjaan dan proyeknya di kantor.

Hari berganti hari, Pak Pur mulai terlihat letih. Tubuhnya yang berusaha ia tegakkan di hari-hari kemarin, sekarang terbaring lemah di atas kasur yang tipis dan koyak. Pak Pur tersengat kelabang di bagian betis saat hendak mengumpulkan kayu bakar di kebun.

Bu Sri berusaha mencari obat untuk kesembuhan suaminya. Ia hanya bisa mengumpulkan dedaunan yang kemudian ditumbuk untuk membalut rasa sakit di kaki Pak Pur.

Berhari-hari Pak Pur terbaring lemah membuatnya kehilangan nafsu makan. Tubuhnya mulai nampak kurus. Bentuk tulangnya pun mulai terlihat. Bu Sri tak tega melihat kondisi suami yang sangat dicintainya. Ia kadang tak kuasa membendung air mata. Namun, selalu menyembunyikan kesedihan dari wajah suaminya. Ia terus mengais pada Ilahi Rabbi untuk kesembuhan suaminya.

Berkali-kali Bu Sri mencoba menelpon Bagus melalui handphone tetangga.

Berharap anaknya datang untuk menjenguk ayah walau sebentar. Namun, tak pernah ada jawaban. Kemudian Bu Sri teringat pada Musdalifah yang saat masih kecil memang sangat dekat dengan ayahnya. Namun, Bu Sri tak ingin mengabarkan kesediahan ini padanya, takut kepikiran dan menjadi tidak fokus belajar. Karena sebentar lagi ia akan mengikuti ujian kelulusan.

Lalu, Bu Sri mencoba meminjam uang kepada tetangga dekat untuk biaya berobat suaminya ke Puskesmas. Alhamdulillah, ia pun dapat mengantarkan suaminya ke Puskesmas. Ia terus berdo’a mengharapkan kesembuhan suaminya.

Tiga hari sudah Pak Pur terbaring lemah di Puskesmas, namun tak ada perkembangan dengan kesehatannya. Malah ia menjadi terbatah-batah ketika berbicara. Apakah racun dari sengatan kelabang telah menyebar ke seluruh tubuhnya? Entahlah. Dengan terpaksa mereka harus mengantarkan Pak Pur untuk pulang ke rumah, karena di Puskesmas fasilitas kesehatan terbatas. Bu Sri tak punya biaya untuk membawa suaminya rujuk ke Rumah Sakit. Dan jaraknya pun cukup jauh dari kampungnya.

Hari demi hari, kondisi Pak Pur semakin memburuk. Bu Sri semakin tak kuasa membendung kesedihan. BerharapĀ  anaknya datang untuk melihat kondisi ayahnya. Karena sudah sering ditelepon, tapi tak pernah ada jawaban. Dan semoga berkenaan dengan datangnya mujizat terhadap kondisi suaminya.

“Pak, yang sabar. Ibu akan terus berdo’a untuk kesembuhan Bapak. Ibu berharap juga semoga Allah membawa kabar pada anak kita, dan segera datang menjenguk Bapak.” Bu Sri selalu berusaha memberi harapan dan semangat pada suaminya.

“I…ya, Bu. Ba…pak pe…ngen I…bu te…tap ku…at wa…lau hi…dup sen…diri. Ja…ngan ter…lalu ber…gan…tung sa…ma o…rang la…in. Cu…kup Allah tem…pat ki…ta me…ngaduh.” Dengan nafas terengah-engah Pak Pur menyampaikan pesan itu.

“Loh, Pak! Ibu nggak sendiri. Ada Bapak yang nemenin Ibu disini. Ibu nggak kebayang kalau harus hidup sendiri tanpa Bapak,” rintih Bu Sri.

“I…zin…kan Ba…pak per…gi de…ngan te…nang. To…long tun…tun lang…kah Ba…pak de…ngan ka…limat tau…hid,” pinta Pak Pur.

“Laa ilaa ha illallaah, muhammadarrosuulullaah,” tuntun Bu Sri.

Pak Pur mengikuti dengan perlahan mengucapkan kalimat agung itu. Dan ditutup dengan hembusan nafas terakhir.

“Bapak…?” teriak Bu Sri sambil memeluk suaminya untuk terakhir kalinya.

“Kenapa, Pak! Kenapa di saat Ibu sedang membutuhkan teman untuk berbagi duka lara, malah Bapak ninggalin Ibu seperti ini?” Bu Sri terus saja menangis di pelukan suaminya.

“Ya Allah, ampuni hamba dan suami hamba atas segala dosa yang telah kami perbuat selama hidup kami. Dan ampuni dosa anak-anak kami yang saat ini tak sempat melihat sakratul maut ayahnya.”

Kini, Pak Pur telah menghadap Sang Khalik. Tinggallah kursi usang yang menjadi kenangan. Dimana kursi itu menjadi saksi sekaligus teman sejati yang mampu menopang raga dari keletihannya.

Asyiknya berkeliling kota dengan bus gratis

Berkeliling kota dengan naik bus begitu asyik dan menyenangkan. Apalagi dibayarnya nggak pakai duit, melainkan dengan membawa beberapa botol atau gelas plastik bekas minuman kemasan. Inilah yang sedang dirasakan dan dinikmati oleh sebagian besar orang-orang yang tinggal di kota Surabaya dan sekitarnya.

Pemerintah kota Surabaya meluncurkan bus kota dengan nama ‘Suroboyo Bus’ yang telah beroperasi sejak Maret 2018 lalu. Kehadiran bus tersebut dianggap mempermudah masyarakat yang ingin melakukan aktifitas sehari-hari seperti berangkat ke kantor, sekolah, pusat perbelanjaan, dan aktifitas lainnya. Selain itu juga dapat mengurangi penggunaan kendaraan pribadi yang menyababkan kemacetan jalan raya, sebagaimana yang disampaikan oleh Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini yang dilansir oleh media nasional.tempo.co.

Beberapa penumpang mengungkapkan kenyamanan saat meniki Suroboyo. Karena dilengkapi oleh beberapa fasilitas yang memadai seperti, kursi yang dibedakan untuk perempuan dengan kursi berwarna merah muda, lansia dan ibu hamil dengan kursi berwarna merah, dan kursi berwarna oranye untuk umum. Selain itu dilengkapi juga dengan AC (Air Conditioner) dan CCTV yang berada di dalam maupun di luar bus. Kemudian pintu bus pun telah dilengkapi dengan sensor yang apabila ada orang yang berdiri di depan pintu, maka pintu tidak akan tertutup dan bus tidak akan berjalan. Dan terdapat pula tombol darurat, apabila sewaktu-waktu terjadi kebakaran. Pengemudi dapat menekan tombol, dan alarm akan berbunyi sehingga pintu akan terbuka secara otomatis, sebagaimana disampaikan oleh Kepala Dinas Perhubungan Kota Surabaya, Irvan Wahyudrajad.

Dilema Cinta Jejaka

Aryan, anak yang begitu sayang pada orang tua, terutama ibunya. Ia senantiasa mengantar ibunya pagi-pagi ke pasar untuk membeli keperluan memasak dan yang lainnya. Tak hanya mengantar, ia pun setia menemani saat berkeliling pasar, melakukan tawar menawar dengan pembeli, serta membawa barang belanjaan yang cukup berat. Tapi, tak sekalipun ia lontarkan perkataan keluhan atau ekspresi kelelahan.

Aryan memang anak yang begitu baik yang sering diceritakan oleh para ibu di komplek yang sama dengan tempat tinggalnya.

“Duh, Si Aryan… Udah guanteng, sayang orang tua, udah pastilah dia sayang sama isterinya nanti kalau udah nikah.” Celetuk Bu Sari saat sedang membeli sayur di gerobak Mang Teguh.

“Em, kayaknya ibu pengen dia jadi mantu Ibu, ya?” Goda Bu Romlah.

“Ah, kalian pada ngomongin orang gini? Tuh, yang diomongin udah nongol tuh.” Mang Teguh mencoba mengingatkan.

Saat mendekati gerobak Mang Teguh dan ibu-ibu yang sedang berbelanja, Aryan mengendorkan gas motornya kemudian menebar seyum bersama ibunya.

“Aduhai… Senyumnya itu loh… Coba aja gue masih mudah, gue jadiin laki’ tu Si Aryan.” Hasrat Bu Jamilah yang umurnya tak jauh beda dengan ibu Budi.

“Ah, dasar loh, janda g**j*n! Tuh, cariin laki’ buat anak perawan loh tuh. Kerjaannya keluyuran aja.” Ketus Bu Romlah.

“Eh, Bu Romlah. Gitu-gitu, anak aku mah rajin. Dia sering banget bantuin aku masak di dapur. Pagi-pagi nyiapin sarapan buat adik-adiknya. Terus, dia juga pintar masak kok. Masakannya enak lagi,” jelas Bu Jamilah.

“Hah, masak sih? Gaya preman gitu, emang bisa masak? Hem, nggak percaya saya Bu.”

Di tengah perdebatan sengit ala ibu-ibu komplek itu, Mang Teguh mencoba menengahi.

“Lah, tadi ngomongin si Aryan. Sekarang malah ributin anak gadisnya Bu Jamilah. Aduh, pusing saya dengarnya. Udah, ah, saya jualan di tempat lain aja. Berisik!” Mang Teguh sedikit terganggu.

“Huuu…” Sorak ibu-ibu serentak.

Aryan dan ibunya yang baru saja pulang dari pasar mulai menyiapkan menu-menu makanan yang akan dihidangkan pada acara yang begitu spesial. Kalau boleh ditebak, apakah itu acara ulang tahun Aryan, ibu, ayah, atau adik satu-satunya yang begitu manja? Hem, bisa jadi. Kita tunggu saja, acara spesial sudah pasti hidangannya juga spesial donk.

Sore hari, waktu dimana acara spesial yang disebutkan tadi telah tiba. Aryan pun telah menata penampilannya dengan apik. Tak ketinggalan ibunya pun telah bersolek sehingga terlihat cantik lagi anggun.

Lalu, mereka menuju sebuah tempat yang layaknya taman bunga nan asri. Rupanya, ayah dan adiknya yang masih duduk di bangku SD (Sekolah Dasar) sudah lebih dulu berada di tempat itu.

Beberapa menit kemudian, Aryan dan Ibunya menampakkan diri. Ayahnya begitu senang melihat kedatangan mereka dengan membawa bingkisan yang telah dikemas dengan begitu cantik.

“Masya Allah, gagah sekali anakku,” puji ayah Aryan.

“Ya donk, Yah. Ibu yang bantuin dia pilihin baju yang cocok. Dia memang agak cuek gitu sama penampilannya.”

“Ayo nak, sepertinya kedatangan kita sudah ditunggu,” ajak ayah.

“Assalamu’alaikum,” ucap ayah.

“Wa’alaikum salam warahmatullah,” jawab seorang laki-laki paruh baya.

Mereka pun memasuki sebuah ruangan yang dihiasi ornamen klasik khas Jawa Timur. Lalu, mereka disambut dengan penuh hangat oleh pemilik hunian itu.

“Ayo Pak, Bu, nak Aryan, silahkan duduk,” pinta seorang Ibu.

Lalu muncullah seorang gadis yang anggun nan bersahaja, duduk di tengah ayah dan ibunya. Ia tampak tersipu saat Aryan menatapnya sedari awal ia terlihat.

“Ehem.” Ayah Aryan berusaha membuyarkan tatapannya seketika.

“Pak, Bu, ijinkan kami untuk menyampaikan sesuatu, sebuah niat baik, Insya Allah. Bahwa kami ingin meminang putri Bapak dan Ibu yang bernama Maulidia Oktaviani, untuk dipersunting oleh putra kami, Aryan Nugraha.”

Seketika suasana menjadi hening. Entah karena mereka terkejut ataukah sedang menyiapkan jawaban yang tepat untuk menjawab lamaran dari keluarga Aryan?

Bersambung…